Pikiransumbar.com – Suasana penuh keakraban dan semangat melestarikan budaya terasa kental di Balai Adat Nagari Selayo, Kecamatan Kubung.
Sebanyak 60 kelompok silek tradisi hadir meramaikan kegiatan Balenong Silek Tuo, yang digelar khusus untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama penggiat bela diri khas Minangkabau ini. Dari jumlah itu, 40 sasaran silek berasal dari Kabupaten Solok dan 20 lainnya dari Kota Solok. Sabtu (25/07/2026).
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Kebudayaan Pemprov Sumatera Barat melalui pokok pikiran, bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok, serta masyarakat Nagari Selayo.
Pokok pikiran tersebut, digagas langsung oleh Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, H. Daswippetra Dt. Manjinjiang Alam, yang memang selama ini konsisten mendukung setiap upaya menjaga warisan budaya di tanah Solok. Hadir tak hanya para guru tua silek, tapi juga disesaki banyak wajah baru generasi muda yang kini mulai jatuh cinta dan menekuni silek tuo.
Dalam kegiatan ini, turut hadir Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy, Wakil Bupati Solok Chandra, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok Marcos Sophan, serta para tokoh adat, perangkat daerah, dan masyarakat setempat.
Marcos Sophan: Silek Lebih dari Sekadar Beladiri, Ini Pembentukan Karakter
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok, Marcos Sophan, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh elemen masyarakat Nagari Selayo, Walinagari beserta jajaran, BPN, KAN, pemuda, warga yang ada di kampung maupun perantau yang sangat kompak memberikan dukungan moril maupun materil demi berjalannya acara ini dengan lancar.
“Terima kasih juga kepada seluruh panitia, pemuda, Bundo Kanduang, serta mahasiswa KKN Unand dan UNP yang sudah bekerja keras menyiapkan kegiatan ini sebaik mungkin,” ucapnya tulus.
Mewakili Pemerintah Daerah Kabupaten Solok, Marcos sangat mendukung program “Silek Masuk Sekolah” yang dicanangkan Wakil Gubernur. Kegiatan hari ini pun, katanya, wujud nyata dari upaya bersama tersebut”.
“Silek bukan sekadar gerakan bela diri fisik semata. Ini wadah untuk membentuk generasi muda Minang yang cakap, tangkas, berkarakter, berbudi luhur, dan berakhlak mulia. Lewat didikan ikhlas para guru dan tuo silek, akan lahir generasi yang tangguh dan berbudi pekerti baik, semoga ini menjadi amal ibadah bagi kita semua, amin,” harapnya.
Ia pun mengingatkan cara dulu belajar silek sering dilakukan secara sembunyi, agar ilmu tak “dicuri” orang lain. Namun pola itu kini dikhawatirkan membuat silek semakin sepi peminat dan bisa punah di negeri sendiri. Padahal silek punya potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya yang bisa dikenal hingga ke mancanegara.
Pemerintah Kabupaten Solok di bawah pimpinan Jon F Pandu dan H. Chandra pun meletakkan pelestarian budaya sebagai Misi ke-3 program unggulan daerah yakni Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Adat dan Budaya.
“Silat menyimpan nilai disiplin, keberanian, kesopanan, persaudaraan, hingga penghormatan pada guru dan adat istiadat. Kami berharap kegiatan ini terus berlanjut dengan dukungan penuh Pemprov Sumbar, menjadi ruang persiapan generasi muda sekaligus memajukan pariwisata berbasis budaya,” tutup Marcos.
Wabub Chandra: Silek Benteng Generasi dari Perilaku Buruk
Wakil Bupati Solok, Chandra, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Anggota Dprd Sumbar Daswippetra dan seluruh guru silek yang tak lelah menjaga tradisi ini. Menurutnya, kehadiran silek tuo kini semakin berkembang pesat, dan hal ini membawa harapan besar bagi masa depan generasi muda.
“Kami yakin, jika silek tuo terus hidup dan diajarkan ke sekolah-sekolah, perilaku buruk seperti tawuran, balap liar, hingga pergaulan bebas akan turun drastis. Lewat silek, anak-anak tak hanya belajar bela diri, tapi juga dibekali adab, akhlak mulia, dan ilmu kehidupan yang sesungguhnya. Nilai-nilai luhur itulah yang tumbuh subur dalam silek tuo,” ujar Chandra.
Pemerintah Kabupaten Solok pun berkomitmen penuh untuk terus menggerakkan kegiatan silek tuo di seluruh wilayah.
Daswippetra: Ingin Semua Aliran Tercatat, Gelar Festival Besar
Inisiator kegiatan H. Daswippetra Dt. Manjinjiang Alam menjelaskan, pertemuan ini sudah menjadi kegiatan yang ke-6 sepanjang tahun 2026. Kali ini giliran Silek Tuo Kumango Nagari Selayo yang menjadi tuan rumah, setelah sebelumnya digelar di Aripan.
Ia juga menyampaikan data yang patut diperhatikan, di Kabupaten Solok sebenarnya ada lebih dari 200 sasaran silek tuo, namun yang baru terdata resmi baru 64 sasaran di Kabupaten Solok. Sementara di Kota Solok sendiri baru tercatat 20 Sasaran.
“Jika seluruhnya sudah tercatat dan diinventarisir dengan baik, kami berencana menggelar festival besar silek tuo. Terima kasih tak terhingga untuk masyarakat Selayo yang luar biasa mendukung pertemuan ini,” ucapnya.
Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy turut mengingatkan, bahwa dulunya ada sekitar 200 aliran silek tradisi di Sumatera Barat, namun kini yang masih bertahan hanya tersisa 50 aliran. Penyebab utamanya satu hal yakni silek tuo mulai dianggap “tidak keren” oleh sebagian generasi muda.
“Kewajiban kita bersama, mengembalikan ‘nyawa’ silek ke hati setiap anak muda. Itulah sebabnya pemerintah provinsi akan menghadirkan program ‘Silek Masuk Sekolah’ mulai tingkat SMA. Nantinya adik-adik di SD dan SMP akan mencontoh kakak-kakaknya, sehingga mereka pun tertarik belajar silek,” tegas Vasko.
Ia juga menegaskan setiap atlet silat yang akan berlaga di tingkat daerah maupun nasional wajib memiliki dasar silek tuo. Dengan begitu, setiap kemenangan yang diraih, termasuk medali emas di kancah internasional akan selalu membawa identitas silat Minangkabau.
“Kekuatan Minangkabau bukanlah dari bangunan tinggi dan megah, melainkan dari sumber daya manusianya. Filosofi kita ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’ mengajarkan kita, merantau boleh menghargai budaya orang lain, tapi di tanah sendiri kita harus kokoh menjaga budaya leluhur. Saya siap pasang badan berjuang sekuat tenaga agar budaya Minangkabau terus lestari,” janji Vasko.
Kegiatan ini diharapkan bisa menjadi agenda rutin, agar silek tuo semakin dikenal, dicintai, dan terus tumbuh, mulai dari Kota dan Kabupaten Solok, hingga seantero Sumatera Barat, bahkan bisa menjadi contoh bagi seluruh Indonesia.
Wagub Vasko: Kembalikan “Nyawa” Silek Lewat Sekolah

Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy turut mengingatkan, bahwa dulunya ada sekitar 200 aliran silek tradisi di Sumatera Barat, namun kini yang masih bertahan hanya tersisa 50 aliran. Penyebab utamanya satu hal yakni silek tuo mulai dianggap “tidak keren” oleh sebagian generasi muda.
“Kewajiban kita bersama, mengembalikan ‘nyawa’ silek ke hati setiap anak muda. Itulah sebabnya pemerintah provinsi akan menghadirkan program ‘Silek Masuk Sekolah’ mulai tingkat SMA. Nantinya adik-adik di SD dan SMP akan mencontoh kakak-kakaknya, sehingga mereka pun tertarik belajar silek,” tegas Vasko.
Ia juga menegaskan setiap atlet silat yang akan berlaga di tingkat daerah maupun nasional wajib memiliki dasar silek tuo. Dengan begitu, setiap kemenangan yang diraih, termasuk medali emas di kancah internasional akan selalu membawa identitas silat Minangkabau.
“Kekuatan Minangkabau bukanlah dari bangunan tinggi dan megah, melainkan dari sumber daya manusianya. Filosofi kita ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’ mengajarkan kita, merantau boleh menghargai budaya orang lain, tapi di tanah sendiri kita harus kokoh menjaga budaya leluhur. Saya siap pasang badan berjuang sekuat tenaga agar budaya Minangkabau terus lestari,” janji Vasko.
Kegiatan ini diharapkan bisa menjadi agenda rutin, agar silek tuo semakin dikenal, dicintai, dan terus tumbuh, mulai dari Kota dan Kabupaten Solok, hingga seantero Sumatera Barat, bahkan bisa menjadi contoh bagi seluruh Indonesia.















