Pikiransumbar.com – Di dunia jurnalistik yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan solidaritas, belakangan ini muncul pola yang mengundang keprihatinan.
Ada sosok yang tampil seolah-olah menjadi pemikir tajam, rajin memberikan masukan, menyampaikan saran, dan tampil peduli terhadap perbaikan kualitas sesama.
Namun di balik tampilan itu, tersembunyi niat yang jauh berbeda, masukan yang disampaikan ternyata bukan bertujuan memperbaiki kualitas, melainkan akal cerdik untuk menjatuhkan nama baik, merusak kredibilitas, dan menggerogoti kepercayaan publik terhadap rekan satu profesi sendiri.
Tampil Memberi Saran, Padahal Menanam Keraguan
Pola yang tampak sederhana namun dampaknya sangat merusak berawal dari kebiasaan seseorang yang kerap menyampaikan “masukan” dan “kritik membangun” kepada Narasumber.
Di permukaan, kata-katanya terdengar masuk akal, disusun rapi, seolah lahir dari kepedulian tulus demi kemajuan. Namun jika dicermati lebih dalam, setiap kalimat yang disampaikan justru berisi hal-hal yang menanam keraguan, hingga menyiratkan dugaan kesalahan yang sebenarnya belum tentu benar adanya.
Kritik yang seharusnya membangun justru berubah menjadi senjata halus yang mematikan. Setiap masukan yang disampaikan perlahan membentuk kesan di benak orang lain bahwa wartawan yang disasar itu kerap keliru, kurang teliti, atau tidak layak dipercaya. Yang disampaikan bukan lagi perbaikan, melainkan bibit keraguan yang ditanam secara berulang dan terencana.
“Kalau tujuannya membangun, sampaikan secara terbuka dan konstruktif. Tapi ini dilakukan dengan cara yang terkesan memberi masukan, padahal tujuannya lain, agar orang lain meragukan kemampuan dan kejujuran rekannya. Itu bukan kritik, itu cara halus untuk menjatuhkan,” ungkap seorang pengamat yang memantau dinamika lingkungan pers di daerah ini.
Akal Halus yang Menyamarkan Niat Buruk
Yang paling menyakitkan sekaligus berbahaya dari pola ini adalah caranya yang menyamar sebagai kepedulian. Dengan tampil seolah-olah orang yang paling berpikir mendalam dan paling tahu segala sesuatunya, sosok itu menjadikan saran dan masukan sebagai tameng.
Siapa pun yang menolak atau membela diri justru bisa dicap tidak mau dibenahi, tidak terbuka, atau sombong. Posisi seolah-olah menjadi pihak yang paling benar, sementara pihak yang disasar tampak semakin lemah di mata orang lain.
Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah permainan citra yang menyesatkan. Alih-alih mengangkat harkat profesi, ia justru memanfaatkan kepercayaan yang diberikan untuk meruntuhkan kredibilitas rekan sesama wartawan.
Perbuatan yang telah dilakukan oleh rekannya diragukan kebenarannya. Semuanya dilakukan dengan kalimat yang halus, seolah sekadar memberi masukan, padahal tujuannya jelas, melemahkan, menjatuhkan, dan membuat rekannya kehilangan kepercayaan.
Menjatuhkan Sesama Menggerus Martabat Seluruh Profesi
Sikap seperti ini bukan sekadar masalah pribadi antarwartawan. Lebih dari itu, perilaku tersebut merupakan luka yang menggerus martabat seluruh profesi kewartawanan.
Ketika sesama rekan justru saling menjatuhkan dengan cara yang menyamar sebagai kritik membangun, maka yang dirusak bukan hanya nama baik seseorang, melainkan kepercayaan masyarakat terhadap dunia pers secara keseluruhan.
Masyarakat pun menjadi bingung, siapa yang sebenarnya bisa dipercaya? Jika sesama profesi saja saling meragukan dan menjatuhkan dengan cara-cara yang tidak jujur, bagaimana mungkin masyarakat bisa yakin pada kebenaran yang disampaikan? Persatuan yang seharusnya menjadi kekuatan justru digantikan oleh ketidakpercayaan yang ditanam secara diam-diam.
“Menegur dan membangun itu kewajiban sesama profesi. Tapi jika teguran itu digunakan sebagai sarana untuk menjatuhkan dan merusak nama baik, maka itu bukan lagi kritik. Itu pengkhianatan terhadap semangat pers itu sendiri.
Lebih menyakitkan karena dilakukan dengan menyamar sebagai orang yang peduli dan memberi masukan,” ujar seorang tokoh pers yang memprihatinkan fenomena tersebut.
Kejujuran Adalah Kekuatan Utama Seorang Wartawan
Di tengah segala kepandaian menyusun kata dan kelicikan menyamarkan niat, ada satu hal yang tak bisa ditutupi selamanya: kebenaran. Wartawan sejati berdiri di atas kebenaran, keberanian, dan kejujuran.
Menjatuhkan rekan sesama profesi dengan cara yang menipu, menyamar, dan menanam keraguan tanpa dasar yang jelas, pada akhirnya akan kembali menimpa pelakunya sendiri. Lambat laun, orang akan menyadari: mana yang benar-benar memberi masukan demi perbaikan, dan mana yang sekadar memakai kedok saran demi niat menjatuhkan.
Sesama wartawan seharusnya saling menguatkan, saling melengkapi kekurangan, dan bersama-sama menjaga kebenaran. Bukan saling meruntuhkan dengan akal halus yang menyembunyikan kebencian atau persaingan tidak sehat.
Karena pada akhirnya, martabat profesi ini tidak dijunjung tinggi dengan cara menjatuhkan orang lain, melainkan dengan kejujuran, keberanian, dan keinginan tulus untuk membangun bersama.










