Tanpa Seragam dan Uang Saku, Atlet Kabupaten Solok Tetap Sabet 167 Medali di Porprov

Hasil akhir perolehan medali Porprov XVI Sumbar 2026. Kabupaten Solok menutup ajang di posisi ke-12 dengan raihan 30 emas, 58 perak, dan 79 perunggu, total 167 medali.
Hasil akhir perolehan medali Porprov XVI Sumbar 2026. Kabupaten Solok menutup ajang di posisi ke-12 dengan raihan 30 emas, 58 perak, dan 79 perunggu, total 167 medali.

Pikiransumbar.com – Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026 resmi ditutup, dan Kabupaten Solok harus puas menempati urutan ke-12 dari 19 kabupaten dan kota peserta.

Kontingen Kabupaten Solok berhasil memperoleh 30 emas, 58 perak, dan 79 perunggu dengan total 167 medali. hasil itu terasa jauh dibanding masa kejayaannya saat menembus 5 besar pada Porprov 2016 dan posisi ke-4 pada ajang Porprov Sumbar 2018.

Bacaan Lainnya

Namun, angka di papan klasemen tak selamanya menceritakan segalanya. Di balik penurunan peringkat itu, tersimpan kisah perjuangan yang patut diapresiasi, dimana para atlet lokal bertanding murni demi nama daerah, di tengah keterbatasan yang luar biasa berat.

Lima Cabang Andalan Tetap Bersinar

Meski terhambat banyak hal, semangat “Urang Solok” tak luntur. Lima cabang olahraga justru tampil luar biasa dan menjadi penopang utama perolehan medali Kabupaten Solok.

Wushu menjadi yang paling membanggakan dengan meraih gelar Juara Umum I, mengoleksi 8 emas, 10 perak, dan 8 perunggu, total 26 medali.

Tak kalah mengesankan, Bulu Tangkis Kabupaten Solok tampil sebagai peraih emas terbanyak di ajangnya. Mereka menyapu 3 emas dari 5 nomor yang dipertandingkan, lewat ganda campuran, ganda putri, dan ganda putra.

Di cabang bela diri lainnya, Karate sukses mengunci posisi Juara Umum II dengan 4 emas, 4 perak, dan 8 perunggu.

Sementara itu, Kick Boxing juga menempati Juara Umum II dengan lonjakan luar biasa yakni 4 emas, 10 perak, dan 4 perunggu, atau tiga kali lipat dari hasil Kejurda tahun 2023. Keberhasilan itu diraih di bawah arahan Muhammad Irfan, S.H., M.H., Dt. Rajo Alam beserta tim pelatih Zelly Hariyanto, Hendra Yazid, Rahmat Sucipto, dan Annisa Nabila.

Sementara Cabang Olahraga Menembak (Perbakin) pun tak kalah jaya, menempati posisi juara kedua dengan 3 emas, 6 perak, dan 2 perunggu, di bawah kepemimpinan Muhammad Hidayat dan Sekretaris Yusrial Dani Putra. Tiga emas itu datang dari nomor APM Team, 10 Meter Air Pistol Men, dan IPSC Team yang diisi Farel, Rudi Wiralaga, dan Adia Hamonangon.

Emas Perdana Geza, dan Permintaan Maaf Bupati

Sinar kebanggaan juga datang dari Taekwondoin Geza Dilaela. Ia mempersembahkan medali emas perdana Kabupaten Solok di nomor Kyorugi U-55 kg, sekaligus menumbangkan atlet tuan rumah Kota Solok di partai final yang berlangsung di GOR Alimin Sinapa pada Sabtu, 3 Oktober 2026.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, terselip kisah yang tak nyaman. Acara pelepasan kontingen di Sport Hall GOR Batubatupang pada 1 Oktober dinilai hambar, warga menyebutnya “dilapeh ayam”, karena tak ada pimpinan daerah yang hadir secara langsung. Menanggapi hal ini, Bupati Solok, Dr. (HC) Jon Firman Pandu, S.H., memberikan penjelasan sekaligus permohonan maaf.

“Saya tidak lepas tangan, namun saat itu saya harus mendampingi kunjungan mendesak Wakil Menteri Dalam Negeri di Posko Bencana Arosuka pasca-banjir bandang. Saya sudah perintahkan Wakil Bupati untuk mewakili, namun wabub ternyata juga ikut mendampingi Wamendagri saat tiba,” ungkap Jon Firman Pandu.

Berangkat Tanpa Seragam, Tanpa Uang Saku

Keterbatasan yang dirasakan para atlet jauh lebih dalam. Sebanyak 560 orang kontingen dari 37 cabor berangkat ke Porprov tanpa seragam dan tanpa uang saku. Kendala birokrasi membuat anggaran belum cair hingga hari keberangkatan. Banyak atlet akhirnya mengeluarkan uang pribadi untuk bisa bertanding agar tidak didiskualifikasi.

Kondisi ini diperparah saat pelepasan, di mana jajaran pengurus KONI Kabupaten Solok tak hadir lengkap, hanya Ketua KONI Doni Zulkifli dan enam pengurus lainnya yang hadir, tanpa Sekretaris maupun Bendahara.

Ketua KONI Kabupaten Solok, Doni Zulkifli, tak menampik hal ini. “Sebelum berangkat, kami tanya semua atlet, siap berangkat dengan biaya sendiri? Kami tidak memaksakan siapa pun. Dan karena kendala ini, kami sama sekali tidak menargetkan medali apa pun di Porprov kali ini,” ujarnya.

Duka Sepakbola yang Belum Bertanding Sudah Gugur

Satu ironi paling menyakitkan datang dari cabang sepakbola. Kabupaten Solok absen di Porprov bukan karena kalah bertanding, melainkan karena kelalaian administratif.

Askab PSSI Kabupaten Solok tidak hadir saat screening di Kabupaten Padang Pariaman pada 28 September 2026, dan gagal menginput data atlet ke sistem Sirimau KONI Sumbar tepat waktu.

Ini terasa sangat ironis, mengingat Kabupaten Solok rutin menggelar turnamen bergengsi seperti Bupati Solok Cup dan Solok Raya Cup, sekaligus memiliki bibit-bibit muda hasil pembinaan berjenjang yang tak sempat tampil.

Bukan Akhir, Tapi Titik Balik

Di tengah segala kekurangan dan keterbatasan, pencapaian lima cabor andalan tetap menjadi bukti nyata bhwa, Kabupaten Solok memiliki bibit-bibit atlet berkualitas. Mereka membuktikan diri bahkan saat tak difasilitasi dengan layak.

Kini, KONI Kabupaten Solok berjanji tak akan melupakan pengorbanan seluruh atlet yang telah tampil berlaga. Doni Zulkifli menegaskan telah menyiapkan ‘cetak biru’ (blue print) pembinaan jangka panjang berbasis evaluasi hasil Porprov kali ini.

“Atlet yang telah berjuang dan meraih medali tidak akan kami tinggalkan. Kami utamakan loyalitas dan kesetiaan mereka yang rela membela nama daerah,” tegas Doni.

Posisi ke-12 di papan klasemen pada akhirnya bukanlah akhir cerita. Itu cermin jujur sekaligus teguran keras, atlet Kabupaten Solok sudah membuktikan mereka mampu, tinggal sekarang giliran sistem dan kebijakan yang harus mengejar ketertinggalan.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *