Pikiransumbar.com – Suasana Nagari Saok Laweh berubah menjadi satu kesatuan yang penuh syukur dan kebersamaan. Sabtu (01 Agustus 2026).
Masyarakat melaksanakan tradisi mulia penyembelihan kerbau atau yang dikenal dengan sebutan Mambantai Kabau, sebagai bagian tak terpisahkan dari rangkaian peresmian Balai Adat Nagari Saok Laweh yang akan dilaksanakan besok, Minggu.
Bagi masyarakat Minangkabau, tradisi ini bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diterima, sekaligus simbol persatuan bahwa rezeki milik bersama harus dinikmati secara adil dan merata.
Malam semakin larut, namun semangat warga belum padam. Para ibu-ibu Bundo Kanduang bahu-membahu di dapur umum, mengolah seluruh daging kerbau hasil penyembelihan dengan penuh kasih sayang dan ketelatenan.
Mereka bergerak serentak, mengiris, mengulek bumbu, hingga memasak dalam jumlah besar agar besok pagi hidangan yang disajikan untuk seluruh warga dan tamu undangan nanti matang sempurna, lezat, dan penuh kehangatan persaudaraan. Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti peran sentral kaum ibu dalam menjaga kelancaran dan kebersamaan setiap acara adat di nagari.
Wali Nagari Saok Laweh, Irwin Saputra, menyampaikan harapan besarnya melalui momen bersejarah ini.
“Kita berharap Baralek Nagari seperti ini nantinya dapat menjadi agenda rutin kita, minimal satu kali dalam setahun. Untuk itu, nanti akan kita adakan musyawarah nagari bersama seluruh elemen masyarakat guna menetapkannya. Tujuannya satu, agar silaturahmi antar Ninik Mamak, Kemenakan, Bundo Kanduang, dan seluruh warga masyarakat terus terjalin erat, tak terputus oleh waktu,” ujarnya tulus.
Anggota DPRD Kabupaten Solok, M. Hidayat, B.Sc., Ac. memuji semangat persatuan yang ditunjukkan warga Saok Laweh. Ia menegaskan, Balai Adat bukan sekadar bangunan berdiri tegak, melainkan rumah besar tempat menyatukan pandangan, merawat warisan leluhur, dan menyelesaikan segala urusan dengan musyawarah mufakat.
“Langkah yang diambil masyarakat Saok Laweh ini sangat patut diapresiasi. Mulai dari gotong royong, hingga ketelatenan para ibu memasak hidangan malam ini, semuanya menunjukkan jati diri kita yang saling mengasihi”. Ujarnya.
“Selain itu, Melestarikan tradisi Mambantai Kabau dan menjadikan Balai Adat sebagai pusat kehidupan bermasyarakat bukti bahwa kita masih teguh memegang prinsip ‘Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah’. Mari kita jaga kebersamaan ini, jadikan Balai Adat sebagai tempat memperkuat persaudaraan, merencanakan kemajuan nagari, dan merawat budaya agar tetap hidup ditengah arus zaman. Semoga apa yang dilakukan hari ini membawa berkah dan kemajuan bagi Saok Laweh ke depannya,” tegas M. Hidayat.
Rangkaian kegiatan ini pun disiapkan dengan penuh semangat gotong royong. Mulai dari persiapan tempat, penyembelihan, hingga pengolahan daging, semuanya dikerjakan bersama-sama. Besok Minggu, puncak acara peresmian Balai Adat Nagari Saok Laweh akan dilaksanakan dengan penuh khidmat, membawa harapan baru bagi kemajuan nagari dengan semangat “Mambangkik Batang Tarandam, Warih Nan Bajawek”.









