Pikiransumbar.com – Alek nagari dalam rangka peresmian Balai Adat Nagari Saok Laweh, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, berjalan penuh kehangatan dan menyatu. Hal itu menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan kebersamaan di nagari ini masih tumbuh subur di hati setiap warga.
Suasana terasa begitu istimewa. Pemerintah Daerah, Pemerintah Nagari, Datuk, ninik mamak, bundo kanduang, pemuka agama, tokoh pemuda, dan seluruh lapisan masyarakat tampak datang dengan senyum tulus. Mereka tidak sekadar hadir menonton, melainkan turut merasakan bahwa keberhasilan acara ini, hasil kerja tangan dan hati bersama. Gedung balai adat yang baru berdiri tegak itu bukan sekadar bangunan batu dan semen, ia rumah besar yang lahir dari persatuan.
Di tengah sukacita itu, Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Solok, M. Hidayat, B.Sc., Ac, yang akrab disapa Bang Dayat berdiri di hadapan warga dengan hati yang penuh rasa syukur. Ia menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh panitia, Walinagari, dan setiap warga yang telah menyempatkan waktu, tenaga, dan pikiran demi menyukseskan acara ini.
“Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang ikut bergerak bersama. Perlu saya sampaikan, alek nagari ini lahir dari inisiatif saya sendiri. Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada masyarakat yang telah mempercayai saya, saya ingin memberikan sesuatu yang bermakna untuk nagari tercinta ini,” ujar Bang Dayat.
Ia pun menyampaikan hal yang membuat hati warga terharu. Ternyata, keberhasilan acara ini memberikan pesan yang lebih dalam dari sekadar perayaan.
“Ternyata masyarakat Saok Laweh ini masih sangat kompak. Hal ini membuktikan bahwa kita masih bisa bersatu untuk satu tujuan bersama. Itulah kekayaan terbesar yang kita miliki,” tambahnya.
Namun yang paling menyentuh hati adalah janji tulus yang ia sampaikan di hadapan semua orang. Bagi Bang Dayat, pengabdian tidak terikat pada jabatan atau masa tugas. Cinta pada nagari tidak berhenti ketika masa jabatan selesai.
“Saya mencintai nagari ini. Walaupun kelak saya tidak lagi menjadi anggota dewan, saya tetap akan mengabdi untuk Saok Laweh sampai akhir masa. Kalau nanti saya tidak maju lagi di pemilihan dan ada rezeki, tetap akan saya bangun nagari ini dengan cara apa pun yang saya bisa. Saya tidak akan berpaling dari tanah tempat saya tumbuh dan dibesarkan,” tegasnya.
Ia pun menyampaikan harapan besarnya ke depan. Semoga Balai Adat yang baru saja diresmikan ini benar-benar dirawat, dijaga, dan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para ninik mamak dan seluruh pengurus. Semoga ke depannya masyarakat Saok Laweh bisa hidup nyaman, rukun, saling menguatkan, dan semakin maju bersama.
“Pengurus harus benar-benar menjalankan tugasnya dengan hati dan tanggung jawab. Agar semua warga merasa nyaman, dihargai, dan memiliki tempat untuk pulang serta berkumpul di rumah adat ini,” pesannya.
Alek nagari ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia menjadi cermin bahwa kekuatan sesungguhnya sebuah nagari tidak terletak pada gedung yang megah, melainkan pada hati warga yang tetap berdiri berdampingan. Dan di sinilah letak keindahan yang abadi, ketika seseorang sukses, ia tidak lupa dari mana ia berasal, dan ketika satu hati bergerak tulus, puluhan tangan akan ikut menyatunya.







